PERSPEKTIF
KONTRADIKTIF DALAM CERPEN PEREMPUAN BUTA TANPA IBU JARI KARYA INTAN PARAMADITHA
Andri Noryunita
Dewi Purwatiningsih
Haris Kurniawati
Program Studi Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
Abstrak:
Dewasa
ini, bahasa dan sastra berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan
periode sastra. Lewat bahasa dan sastra, masyarakat diajarkan untuk dapat
membangkitkan masa lalu dan mengambil
manfaat dari cerita masa lalu, mengantisipasi masa depan, serta menceritakan peristiwa atau kejadian lampau
kepada khalayak masa kini. Namun, sering kali eksistensi bahasa dan sastra
melahirkan kesan logosentrisme dan
menanamkan kesan strukturalisme saussurean yang berkembang
pada tahun 1950-an. Misalnya dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih yang
memberikan paradigma bahwa ibu tiri dan saudara tiri jahat. Berkaitan dengan
masalah tersebut, makalah ini ditulis berdasarkan penelitian dalam cerpen
“Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” karya Intan Paramaditha yang bertujuan umum
untuk memberikan wacana dan pandangan baru terhadap suatu karya sastra sebagai
media edukasi moral dan karakter, khususnya untuk memberikan apresiasi terhadap
karya sastra dari sudut pandang yang lain. Teori yang digunakan penulis dalam
menganalisis cerpen tersebut adalah teori dekonstruksi. Analisis menunjukkan
bahwa cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” menggunakan konsep yang kontras
dengan cerita “Bawang Merah dan Bawang Putih” melalui penggambaran karakter
tokohnya yang secara eksplisit beroposisi biner. Dengan demikian, analisis ini
diharapkan dapat membuka cakrawala baru yang dapat mendukung pembelajaran karya
sastra di era modern ini.
Keyword:
dekonstruksi, oposisi biner, kontras, analisis
PENDAHULUAN
Di
era modern ini, bahasa dan sastra berkembang dengan pesat seiring dengan
perkembangan periode sastra. Mealui bahasa dan sastra, masyarakat diajarkan
untuk dapat membangkitkan masa lalu dan
mengambil manfaat dari cerita masa lalu, mengantisipasi masa depan, serta menceritakan peristiwa atau kejadian lampau
kepada khalayak masa kini. Menurut Wellek
dan Warren (1990:3), sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni.
Karya sastra merupakan sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Melalui
karya sastra, seorang penulis bebas berekspresi dan berusaha menyampaikan
maksud kepenulisannya tersebut kepada khalayak umum.
Indonesia termasuk negara yang menyimpan beragam folktale atau
cerita rakyat. Cerita ini biasanya diceritakan secara lisan dari orang tua
kepada anak-anaknya atau dari kakek-nenek ke cucunya sebagai dongeng menjelang
tidur. Menurut Cooper (2000:7), anak-anak belajar bagaimana cara membaca,
menulis, berbicara, mendengar, melihat, dan berpikir dengan bekal kesempatan
yang nyata untuk membaca, menulis, berbicara, mendengar, melihat, dan berpikir
yang dilengkapi dengan latihan yang melibatkan pemberian tanda dengan
melingkari dan menggarisbawahi. Dengan cara memberikan dongeng sebelum tidur
kepada anak-anak, mereka bisa belajar untuk mendengar, berbicara, berpikir, dan
berimajinasi.
Akan tetapi, kemutlakan yang telah menjadi mindset tidak selamanya
benar.
Eksistensi bahasa dan sastra cenderung melahirkan kesan logosentrisme yang menjadi dasar pemikiran Barat sejak dari
zaman Plato dan menanamkan kesan strukturalisme saussurean yang berkembang
pada tahun 1950-an. Dongeng Bawang
Merah Bawang Putih merupakan dongeng yang cenderung diceritakan secara oral,
dimana telah tersetting mindset bahwa seorang anak yang punya ibu tiri selalu kalah,
hidupnya tidak enak dan terpinggirkan dengan kehadiran ibu tiri dan saudara
tirinya, dan seorang wanita yang menikah dengan lelaki kaya atau pangeran pasti
akan berakhir bahagia. Hal ini memunculkan paradigma bahwa saudara tiri dan ibu
tidak dianggap baik sehingga anak-anak terkesan enggan untuk memiliki ibu tiri
dan saudara tiri. Serta muncul pandangan dalam diri anak-anak perempuan untuk
menikah dengan seorang pangeran karena pasti akan hidup bahagia selamanya
seperti yang ada di dongeng Bawang Merah Bawng Putih. Di
era milenium, muncullah penulis yang mencoba membongkar paradigma tersebut
melalui karya sastranya. Intan
Paramadhita mencoba mendeknstruksi ulang cerita rakyat ini di dalam sebuah
cerpen yang berjudul Perempuan Buta tanpa Ibu Jari.
Cerpen berjudul “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” ini menarik untuk
dianalisis karena karya ini merupakan hasil karya intertekstual dari cerita
Cinderella Walt Disney. Akan tetapi makalah ini lebih difokuskan pada analisis
sastra yang ada di Indonesia yaitu cerpen modern Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari
sebagai pembongkaran dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Dari sinilah penulis
menceritakan kembali dongeng yang telah lama berkembang dengan merombak tatanan
yang ada namun mempunyai unsur-unsur dan konsep yang sama.
Pertanyaan
kita adalah bagaimanakah dekonstruksi dalam cerita Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari karya Intan Paramadhita? Dan
bagaimana hasil pembongkaran sentralisasi dari Bawang Merah dan Bawang Putih
melalui dekonstruksi teks cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari?
PEMBAHASAN
Dekonstruksi berasal dari bahasa latin yang merupakan gabungan kata
“de” yang artinya pengurangan atau terlepas, dan “construktio” yang artinya
bentuk atau susunan. Dekonstruksi berarti melepaskan suatu bentuk baku dari
sususan yang telah ada. Dekonstruksi pertama kali dikemukaan oleh Jacques
Derrida, seorang filosof Perancis yang lahir di Aljazair pada tahun 1930.
Pandangan Derrida melalui dekonstruksi ini bahwa ia menolak kemutlakan kebenaran
yang menanamkan kesan logosentrisme pada teori strukturalisme.
Dalam pemikiran Saussure ini terpadat oposisi-oposisi biner yang
mengandung hierarki, dimana kedudukan salah satunya lebih diunggulkan. Misalnya
laki-laki dianggap lebih dominan dari permpuan. Menurut Saussure dalam teori
linguistik, ucapan dianggap lebih unggul dari tulisan karena tulisan dianggap
sebagai hasil dari lisan. Sedangkan menurut Derrida, tulisan itu lebih unggul
dan dibutuhkan untuk sebuah ucapan. Derrida mencoba membongkar oposisi-oposisi
biner ini. Sebagai contoh, kata sangsi dan sanksi yang berbeda penulisan namun
pengucapannya sama. Sehingga ini jelas bahwa ucapan tidak selalu lebih utama
dibandingkan teks atau tulisan karena tulisan dapat membedakan ambiguitas.
Kehadiran sebuah karya sastra
secara umum diawali dengan
sastra lisan, kemudian dalam
perjalanannya sastra berubah
menjadi sastra tulis.
Sudah merupakan pendapat universal
dan kenyataan sejarah,
bahwa kesusastraan lisan lahir
jauh sebelum ditemukannya
tulisan (Darsimah Dkk,
1992:3). Sejarah lahirnya karya sastra dimulai dengan penceritaan oral,
yakni secara lisan dan turun temurun. Misalnya dongeng yang berkembang di
masyarakat yang diceritakan dari mulut ke mulut itu tidak diketahui siapa
pengarangnya atau anonimous. Penceritaan dari mulut ke mulut alian dengan
ucapan ini secara tidak langsung dapat memciptakan ambiguitas, berbeda dengan
sastra tulis yang lebih jelas dengan cara pembacaan teks karya sastra. Kemudian
berkembang dari periode ke periode sehingga tercipta karya sastra secara
tertulis dan diketahui nama pengarangnya.
Dekonstruksi merupakan sebuah pembacaan teks, namun tidak semua
teks dapat dianalisis menggunakan dekonstruksi. Hanya teks-teks yang mengandung
keterkaitan dengan membalik oposisi-oposisi biner yang ada.
Dekonstruksi dalam cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari karya Intan
Paramadhita
Cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari adalah salah satu cerpen karya
Intan Paramaditha dalam buku Sihir Perempuan yang diterbitkan tahun 2005.
Terdapat 11 cerpen dalam buku ini yang sebagian besar mengangkat tema
keperempuanan. Cerpen karya Intan Paramadhita ini mendapat penghargaan sebagai
cerpen terbaik Kompas pada tanggal 26 Juni 2014 setelah terpilih sebagai cerpen
terbaik yang dimuat harian Kompas selama tahun 2013 dalam rangka peringatan 49
tahun Kompas pada 28 Juni 2014. Intan Paramaditha, penulis kelahiran Bandung
1979 ini adalah penulis yang menuangkan ide ceritanya dengan gaya yang sangat
tidak biasa. Penulis lulusan New York University ini sering menuangkan
gagasannya sebagai bentuk kritik terhadap fenomena sosial yang berkembang di
masyarakat melalui karya sastranya. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari ini pun lahir
sebagai bentuk konstruksi ulang dari dongeng turun temurun Bawang Merah Bawang
Putih yang telah melegenda.
Dekonstruksi ini bertujuan menunjukkan ketidakberhasilan kebenaran
mutlak (break the fact) dan menyingkap fakta-fakta tersembunyi sehingga dapat
menghasilkan makna-makna baru tanpa terpacu pada makna absolut. Lebih mudahnya,
dekonstruksi teks ini merombak struktur yang ada dengan pemikiran yang lebih
fleksibel dan tidak selalu terpusat.
Dalam dekonstruksinya, Derrida menggambarkan dekonstruksi sebagai
tulisan ganda (double writing), gerakan ganda. Dan pengertian ganda. Maksudnya dalam
dekonstruksi ini ada dua tulisan, gerakan, atau pengertian yang secara konsep
sama namun berlawanan, tapi ‘berlawanan’ disini diartikan untuk saling
melengkapi satu sama lain. Senanda dengan Derrida, Simon Crithley
memperkenalkan istilah “pembacaan ganda” (double reading) dalam The Ethic of
Deconstruction (1992). Menurutnya, pembacaan dengan menggunakan strategi
dekonstruksi berbeda dengan jenis pembacaan lainnya.
Hasil Dekonstruksi
Bawang Merah Bawang Putih adalah cerita rakyat yang sangat familiar
tentang seorang gadis cantik yang ditinggal mati ibunya kemudian ayahnya
menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Anaknya sebaya dengan Bawang
Putih yang bernama Bawang Merah. Bawang Putih dikisahkan sebagai gadis yang
tulus dan selalu kalah dengan ibu tiri dan saudara tirinya. Melalui cerpen
Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Intan Paramadhita mencoba mengungkap sisi lain
dari cerita rakyat tersebut. Di dalam cerpen ini terdapat
pembongkaran-pembongkaran yang diluar dugaan masyarakat dengan apa yang telah
diketahui. Adanya perbedaan ini nampak jelas ketika tokoh Sindelarat yang
dioposisi-binerkan dengan Bawang Putih ternyata tidak setulus itu hatinya.
“ Adik tiriku Larat memang
piawai memasang muka manis. Suatu hari ketika ayah tiriku hendak bepergian, ia
menanyakan hadiah apa yang kami inginkan. Tentu saja karena jarang mendapat
hadiah yang bagus darinya, kami menjawab gaun indah. Larat berkata, cukup
sekuntum mawar saja. Tak heran, karena tanpa ayah bepergianpun ia sudah
diberikan segala kemewahan. Perhatikan betapa ia ingin menampilkan citra gadis
baik-baik yang tidak matrealistis. Puh! Sangat tidak realistis. Kalau tak
peduli kekayaan, mengapa ia bersikeras pergi ke pesta untuk bertemu pangeran
Mahakaya?” (hal. 31)
Dari kutipan diatas terdapat kontradiksi antara tokoh Bawang Putih
dan seorang Sindelarat. Dalam kutipan di atas diceritakan bahwa Larat memasang
muka polos dan terkesan sederhana tidak muluk-muluk padahal dia sangat
matrealistis dan menginginkan harta kekayaan. Sindelarat tidaklah sepolos
Bawang Putih. Kepolosannya dia gunakan untuk menarik hati ayahnya dan
orang-orang sekitarnya padahal dia sebenarnya mempunyai maksud yang licik. Jika
dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih mengisahkan kehidupan Bawang Putih yang
selalu kalah dan hidup sengsara karena perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu
tiri dan Bawang Merah, maka di dalam cerpen ini cerita itu dibongkar dengan
cara mengisahkan tokoh Perempuan Buta selaku saurada tiri Sindelarat yang
selalu kalah dengan kehidupan Sindelarat. Bahkan yang suka bertindak
semena-mena adalah Sindelarat. Ia suka memberikan baju bekasnya kepada saudara
tirinya dan menyuruh ibu tirinya untuk memanjakannya.
Dari sini pembaca akan ditunjukkan sebuah pandangan baru, ternyata
saudara tiri yang selama ini disentralkan bersifat jahat dan kejam dikisahkan
menjadi tak selamanya saudara tiri itu bersifat jahat dan belum tentu jahatnya
itu memang benar karakternya seperti itu. Selama ini anak-anak mudah
terprovokasi dongeng Bawang Merah Bawang Putih bahwa Bawang Merah sebagai
saudara tiri dan ibu tiri itu jahat, sedangkan Bawang Putih itu selalu baik.
Padahal tidak selamanya berlaku seperti itu.
Dekonstruksi lain juga nampak dalam kutipan cerpen berikut:
“Tahun demi tahun berlalu
dan kami menjadi bunga yang siap dipetik. Tapi sial, siapa yang dilirik para pemuda
di pasar ataupun alun-alun? Larat. Kendati ia tak lagi bergaun indah, wajahnya
masih tetap cantik. Kulitnya kuning bercahaya. Rambutnya hitam bak mayang.
Tubuhnya semampai, pinggangnya kecil. Kakinya apalagi. Tutur katanya lembut
merayu. Sedangkan kami, yang lebih mewarisi rupa ayah daripada kecantikan ibu.
Bertubuh besar dan bekulit gelap. Kami saudara Larat hanya bisa gigit jari saat
tetangga mengomentari kesempurnaannya setiap waktu. Dan betapa was-wasnya kami
kala mengetahui para laki-laki mengantre di depan pintu hanya untuk melamar
Larat.” (hal 31-32)
Barometer perempuan cantik adalah perempuan yang cantik di mata
laki-laki. Dalam cerpen ini perempuan buta dianggap sebagai sosok yang
terpinggirkan. Dibalik kekurangan yang
dimiliki, perempuan buta tersebut selalu dikalahkan oleh sosok Larat, adik
tirinya, Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keadaan yang ada. Dia
tidak mencoba menyakiti atau bahkan membunuh Sindelarat yang selalu
menghalanginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia menyadari bahwa
dirinya berbeda dengan Larat. Perempuan buta tersebut merasa terkucilkan saat
mengetahui dan menyadari bahwa semua orang lebih menyukai dan tertarik pada
Larat dibandingkan dengan dirinya yang buta dan kondisi fisik tidak sempurna.
Berbeda dengan dongeng Bawang Merah Bawang Putih dimana Bawang Merah selalu
menindas Bawang Putih demi mencapai keinginannya. Si perempuan buta tak pernah
mencapai dominasi hidupnya selama tinggal dengan Sindelarat meskipun ia
berharap bisa hidup enak dan bahagia setelah ibunya menikah lagi.
Bawang Merah sebagai saudara
tiri Bawang Putih, yang dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih dikenal angkuh,
suka membangga-banggakan diri, dan merasa dirinya lebih baik dari Bawang Putih.
Namun di dalam cerpen menghadirkan karakter yang berbeda dari tokoh Perempuan
Buta sebagai saudara tiri Larat. Ia mengakui kelebihan Larat dibandingkan
dengan dirinya. Ini terlihat dari deskripsi Perempuan Buta tentang kelebihan
sosok Larat dibandingkan dirinya dan ia hanya bisa gigit jari melihat
kecantikan Larat. Ini berarti saudara tiri mau mengakui kekurangan dirinya dan
tidak selalu saudara tiri suka membangga-banggakan diri atas adik tirinya.
Dekonstruksi juga terdapat dalam kutipan cerpen
berikut:
“Ibu menyuruh Larat
bersembunyi saat aku dan adikku bergiliran mencoba sepatu itu. Rupanya ia masih
bermimpi kami bisa mendapat jodoh keturunan ningrat. Tapi sepatu itu terlalu
kecil. Kakiku harus kupaksa masuk kedalamnya agar aku bisa diterima. Sial ,
jari-jari kakiku begitu besar dan melebar! Aku tak isa mendorong lagi karena
ibu jariku melebihi ukuran gadis-gadis pada umumnya. Ibuku menyodori pisau,
“Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak
berjalan. Jadi kau tak membutuhkannya.” Maka kuambil pisau itu an kugigit
bibirku saat aku berusaha memutuskan ibu jari kakiku. Kubuang bagian kecil
tubuhku itu ke tempat sampah untuk menjadi santapana anjing. Kini kusadari,
Nak, dunia ini memang penuh dengan sepatu kekecilan yang hanya menerima
orang-orang termutilasi. (hal 33.)
Kutipan cerpen di atas menggambarkan bahwa cerpen ini juga
menampilkan sisi lain dari dongeng Bawang Merah Bawang Putih berkaitan dengan
hubungan ibu dan anak kandungnya. Jika dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih
ibu tiri selalu menyayangi Bawang Merah dengan cara yang lembut dan selalu
memanjakannya, maka dalam cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari ini menampilkan
sisi buruk seorang ibu yang dilakukan terhadap anak kandungnya sendiri. Ego
yang dimiliki seorang ibu untuk memiliki harta dengan cara mengorbankan
kesempurnaan fisik anaknya. Seperti yang dilakukan ibu tiri Sindelarat kepada
anak kandungnya, si perempuan buta, dengan cara menyakiti anak kandungnya. Meskipun
toh maksud dari memotong ibu jari kaki agar bisa masuk kedalam sepatu pangeran dalam
rangka mencari permaisuri, sehingga ia kelak bisa menjadi Ratu. Sang ibu lebih
mementingkan ambisinya sendiri untuk memperoleh harta kekayaan kerajaan dengan
cara mengorbankan anaknya. Seorang ibu yang tidak ingin menyakiti anaknya
seperti dalam dongeng, justru disini digambarkan kejahatan seorang ibu terhadap
anak kandungnya sendiri. Ia seolah-olah tidak peduli dengan rasa sakit yang
diderita anaknya. Seorang ibu yang tidak sanggup melihat jari putrinya tersayat
pisau dalam dongeng, bahkan dalam cerpen ini berhasil menguak ibu kandung juga
bisa memutilasi anaknya. Ini seperti kritik yang dilontarkan kepada kaum ibu
saat ini terkait kasus pembunuhan anaknya karena alasan ekonomi. Kisah ini juga
tersirat bahwasannya secara tidak langsung si ibu tiri ini malah melindungi
anak tirinya, yaitu Sindelarat. Dengan adanya pandangan baru tersebut, seorang
anak bisa lebih berwawasan luas dan berpikiran bebas karena tidak serta merta
menganggap ibu tiri selalu menyakiti anak tirinya.
Intan Paramadhita piawai dalam menghancurkan
imajinasi gadis-gadis tentang keinginan mereka menjadi seorang putri dengan
menikahi seorang pangeran seperti dalam kutipan berikut:
“Oh, ya, Larat tidak
hidup bahagia selama-lamanya seperti yang dikira banyak orang. Ia meninggal
saat melahirkan putrinya yang keenam. Hampir setiap tahun ia hamil karena
kerajaan membutuhkan putra mahkota. Ia tak lagi cantik- pahanya ditimbuni lemak
dan perutnya lembek seperti tahu. Ia mati karena pendarahan berkepanjangan,
sebagai penutup cantik kisah yang banjir darah ini. (hal. 36)”
Sentral dari cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari,
yakni Sindelarat dikisahkan tidak bahagia selama-lamanya setelah menikah dengan
pangeran. Bahkan kehidupan Sindelarat berakhir tragis dan sungguh mengenaskan
ketika setiap tahun ia diminta untuk melahirkan putra sebagai penerus
kerajaannya. Alhasil, ia harus meregang nyawa saat kelahiran putranya yang
keenam. Tidak ada letak kebahagiaan setelah menikah dengan seorang pangeran dan
tinggal di istana kerajaan dikarenakan Sindelarat dituntut untuk melahirkan
setiap tahun. Kesan bahwa akhir hidup Bawang Putih setelah menjadi seorang
putri yang “bahagia untuk selama-lamanya” dalam dongeng Bawang Merah Bawang
Putih ini kembali dipatahkan oleh Intan Paramaditha.
Cerpen tersebut berhasil mendobrak doktrin pembaca
tentang dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Dalam cerpennya ini, Intan
mengkritik fenomena di masyarakat yang melandaskan kecantikan wanita itu
segala-galanya. Seorang wanita yang telah bersuami harus merawat tubuhnya
seindah mungkin. Dia harus diet ketat demi mendapatkan postur tubuh yang ideal.
Di dalam dongeng juga selalu mendeskripsikan sosok putri itu selalu cantik dan
langsing. Akan tetapi cerita ini menyuguhkan sosok perempuan yang telah
bersuami yang sama sekali tidak peduli dengan timbunan lemak di tubuhnya, dan
hal ini tidak masalah bagi seorang suami selama sang istri berusaha melakukan
yang terbaik untuk suaminya.
Dibawah
ini merupakan tabel perbandingan antara persamaan dan perbedaan yang dimiliki
kedua tokoh yang dioposisi-binerkan.
Tabel 1.1
Persamaan Tokoh Bawang Putih dan Sindelarat
|
No.
|
Tokoh
|
Bawang Putih
|
Sindelarat
|
|
1.
|
Fisiologi
|
Wanita
Berwajah cantik
|
Wanita
Berwajah cantik
|
|
2.
|
Sosiologi
|
Anak orang berada
Memiliki ibu dan saudara tiri
Disukai banyak lelaki
|
Anak orang berada
Memiliki ibu dan saudara tiri
Disukai banyak lelaki
|
|
3.
|
Psikologi
|
Lemah lembut
Pandai menarik hati
|
Lemah lembut
Pandai menarik hati
|
Tabel 1.2
Perbedaan Tokoh Bawang Putih dan Sindelarat
|
No.
|
Tokoh
|
Bawang Putih
|
Sindelarat
|
|
1.
|
Fisiologi
|
Gadis Remaja
Perawan
Fisik yang terawat
|
Wanita Dewasa
Bersuami
Fisik tidak terawat
|
|
2.
|
Sosiologi
|
Tinggal di sebuah desa
Mempunyai satu saudara tiri
|
Tinggal di Kerajaan
Mempunyai dua saudara tiri
|
|
3.
|
Psikologi
|
Mandiri
Tidak matrealistis
Asli polos
Disiksa ibu tiri dan saudara tiri
Tidak serakah
Selalu kalah dengan saudara tiri
|
Manja
Matrealistis
Kepolosan yang dibuat-buat
Semena-mena kepada saudara tiri
Tamak akan harta
Selalu menang dari saudara tiri
|
KESIMPULAN
Cerpen
Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari ini merupakan sebuah kritik Intan Paramadhita terhadap
permasalahan sosial dan keperempuanan yang dihadapi masyarakat. Dengan
menggunakan dekonstruksi yang dicetuskan oleh Derrida, tokoh-tokoh dalam
dongeng Bawang Merah Bawang Putih diceritakan secara explisit berlawanan pada
cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari ini namun tetap memiliki konsep yang sama.
Oposisi-oposisi benier telah berhasil dibalik yang terlihat secara eksplisit
kekontrasan antara karakter tokoh-tokohnya dan keterbalikan dalam kehidupan
tokoh-tokohnya. Dengan demikian, analisis ini diharapkan dapat membuka
cakrawala baru yang dapat mendukung pembelajaran karya sastra di era modern
ini. Pembacaan teks dengan dekonstruksi ini benar-benar akan memperkaya
pengetahuan pembaca tentang sentralisasi yang selama ini mendoktrin pikiran
pembaca, sehingga masyarakat khususnya anak-anak diharapkan lebih kritis
terhadap problematika di sekitarnya untuk dapat menggali kreativitas dari sudut
yang lain. Selain itu mereka juga dapat menangkap pesan tersembunyi dilihat
dari aspek yang berbeda. Meskipun Perempuan Buta sebagai saudara tiri tidak
berlaku semena-mena dan suka menang sendiri, namun di Indonesia tetap dianggap
sebagai subjek yang termarjinalkan atau tersisihkan karena tidak punya celah
untuk bersaing. Ditambah dengan memahami dan mempelajari karya sastra Indonesia
khususnya cerita rakyat dan cerita pendek dapat membantu melestarikan budaya
kita. Kehidupan seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Selalu ada dua sisi
yang berbeda namun tidak ada yang diunggulkan karena keduannya sebenarnya
diciptakan untuk saling melengkapi satu satu lain.
REFERENSI
Cooper,
J. David. 2000. Literacy. Helping Children construct Meaning. Houghton
Mifflin Company: Boston.
Darsimah,
dkk. 1992. Pengantar Kesusastraan Jepang. Jakarta: Gramedia.
Norris,
Christopher. 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi
Jacques Derrida. Ar
Ruzz: Yogyakarta.
Paramaditha,
Intan. 2005. Sihir Permpuan. Jakarta: KataKita.
Tyson,
Lois. 1999. Critical Theory Today. New York and London: Garland
Publishing, Inc.
Wellek & Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.
No comments:
Post a Comment