Tuesday, 4 November 2014

MAKALAH SEMINAR NASIONAL PARAMASASTRA


PERSPEKTIF KONTRADIKTIF DALAM CERPEN PEREMPUAN BUTA TANPA IBU JARI KARYA INTAN PARAMADITHA
Andri Noryunita
Dewi Purwatiningsih
Haris Kurniawati
Program Studi Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
Abstrak:
Dewasa ini, bahasa dan sastra berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan periode sastra. Lewat bahasa dan sastra, masyarakat diajarkan untuk dapat membangkitkan  masa lalu dan mengambil manfaat dari cerita masa lalu, mengantisipasi masa depan, serta  menceritakan peristiwa atau kejadian lampau kepada khalayak masa kini. Namun, sering kali eksistensi bahasa dan sastra melahirkan kesan logosentrisme  dan menanamkan  kesan  strukturalisme saussurean yang berkembang pada tahun 1950-an. Misalnya dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih yang memberikan paradigma bahwa ibu tiri dan saudara tiri jahat. Berkaitan dengan masalah tersebut, makalah ini ditulis berdasarkan penelitian dalam cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” karya Intan Paramaditha yang bertujuan umum untuk memberikan wacana dan pandangan baru terhadap suatu karya sastra sebagai media edukasi moral dan karakter, khususnya untuk memberikan apresiasi terhadap karya sastra dari sudut pandang yang lain. Teori yang digunakan penulis dalam menganalisis cerpen tersebut adalah teori dekonstruksi. Analisis menunjukkan bahwa cerpen “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” menggunakan konsep yang kontras dengan cerita “Bawang Merah dan Bawang Putih” melalui penggambaran karakter tokohnya yang secara eksplisit beroposisi biner. Dengan demikian, analisis ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru yang dapat mendukung pembelajaran karya sastra di era modern ini.
            Keyword: dekonstruksi, oposisi biner, kontras, analisis

PENDAHULUAN
Di era modern ini, bahasa dan sastra berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan periode sastra. Mealui bahasa dan sastra, masyarakat diajarkan untuk dapat membangkitkan  masa lalu dan mengambil manfaat dari cerita masa lalu, mengantisipasi masa depan, serta  menceritakan peristiwa atau kejadian lampau kepada khalayak masa kini. Menurut Wellek dan Warren (1990:3), sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Karya sastra merupakan sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Melalui karya sastra, seorang penulis bebas berekspresi dan berusaha menyampaikan maksud kepenulisannya tersebut kepada khalayak umum.
Indonesia termasuk negara yang menyimpan beragam folktale atau cerita rakyat. Cerita ini biasanya diceritakan secara lisan dari orang tua kepada anak-anaknya atau dari kakek-nenek ke cucunya sebagai dongeng menjelang tidur. Menurut Cooper (2000:7), anak-anak belajar bagaimana cara membaca, menulis, berbicara, mendengar, melihat, dan berpikir dengan bekal kesempatan yang nyata untuk membaca, menulis, berbicara, mendengar, melihat, dan berpikir yang dilengkapi dengan latihan yang melibatkan pemberian tanda dengan melingkari dan menggarisbawahi. Dengan cara memberikan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak, mereka bisa belajar untuk mendengar, berbicara, berpikir, dan berimajinasi.
Akan tetapi, kemutlakan yang telah menjadi mindset tidak selamanya benar. Eksistensi bahasa dan sastra cenderung melahirkan kesan logosentrisme  yang menjadi dasar pemikiran Barat sejak dari zaman Plato dan menanamkan  kesan  strukturalisme saussurean yang berkembang pada tahun 1950-an. Dongeng Bawang Merah Bawang Putih merupakan dongeng yang cenderung diceritakan secara oral, dimana telah tersetting mindset bahwa seorang anak yang punya ibu tiri selalu kalah, hidupnya tidak enak dan terpinggirkan dengan kehadiran ibu tiri dan saudara tirinya, dan seorang wanita yang menikah dengan lelaki kaya atau pangeran pasti akan berakhir bahagia. Hal ini memunculkan paradigma bahwa saudara tiri dan ibu tidak dianggap baik sehingga anak-anak terkesan enggan untuk memiliki ibu tiri dan saudara tiri. Serta muncul pandangan dalam diri anak-anak perempuan untuk menikah dengan seorang pangeran karena pasti akan hidup bahagia selamanya seperti yang ada di dongeng Bawang Merah Bawng Putih. Di era milenium, muncullah penulis yang mencoba membongkar paradigma tersebut melalui karya sastranya. Intan Paramadhita mencoba mendeknstruksi ulang cerita rakyat ini di dalam sebuah cerpen yang berjudul Perempuan Buta tanpa Ibu Jari.
Cerpen berjudul “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari” ini menarik untuk dianalisis karena karya ini merupakan hasil karya intertekstual dari cerita Cinderella Walt Disney. Akan tetapi makalah ini lebih difokuskan pada analisis sastra yang ada di Indonesia yaitu cerpen modern Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari sebagai pembongkaran dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Dari sinilah penulis menceritakan kembali dongeng yang telah lama berkembang dengan merombak tatanan yang ada namun mempunyai unsur-unsur dan konsep yang sama.
Pertanyaan kita adalah bagaimanakah dekonstruksi dalam cerita Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari karya Intan Paramadhita? Dan bagaimana hasil pembongkaran sentralisasi dari Bawang Merah dan Bawang Putih melalui dekonstruksi teks cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari?

PEMBAHASAN
Dekonstruksi berasal dari bahasa latin yang merupakan gabungan kata “de” yang artinya pengurangan atau terlepas, dan “construktio” yang artinya bentuk atau susunan. Dekonstruksi berarti melepaskan suatu bentuk baku dari sususan yang telah ada. Dekonstruksi pertama kali dikemukaan oleh Jacques Derrida, seorang filosof Perancis yang lahir di Aljazair pada tahun 1930. Pandangan Derrida melalui dekonstruksi ini bahwa ia menolak kemutlakan kebenaran yang menanamkan kesan logosentrisme pada teori strukturalisme.
Dalam pemikiran Saussure ini terpadat oposisi-oposisi biner yang mengandung hierarki, dimana kedudukan salah satunya lebih diunggulkan. Misalnya laki-laki dianggap lebih dominan dari permpuan. Menurut Saussure dalam teori linguistik, ucapan dianggap lebih unggul dari tulisan karena tulisan dianggap sebagai hasil dari lisan. Sedangkan menurut Derrida, tulisan itu lebih unggul dan dibutuhkan untuk sebuah ucapan. Derrida mencoba membongkar oposisi-oposisi biner ini. Sebagai contoh, kata sangsi dan sanksi yang berbeda penulisan namun pengucapannya sama. Sehingga ini jelas bahwa ucapan tidak selalu lebih utama dibandingkan teks atau tulisan karena tulisan dapat membedakan ambiguitas.
Kehadiran  sebuah karya  sastra  secara umum diawali dengan  sastra  lisan, kemudian  dalam  perjalanannya  sastra  berubah  menjadi  sastra  tulis.  Sudah merupakan  pendapat  universal  dan  kenyataan  sejarah,  bahwa  kesusastraan  lisan lahir  jauh  sebelum  ditemukannya  tulisan  (Darsimah  Dkk,  1992:3). Sejarah lahirnya karya sastra dimulai dengan penceritaan oral, yakni secara lisan dan turun temurun. Misalnya dongeng yang berkembang di masyarakat yang diceritakan dari mulut ke mulut itu tidak diketahui siapa pengarangnya atau anonimous. Penceritaan dari mulut ke mulut alian dengan ucapan ini secara tidak langsung dapat memciptakan ambiguitas, berbeda dengan sastra tulis yang lebih jelas dengan cara pembacaan teks karya sastra. Kemudian berkembang dari periode ke periode sehingga tercipta karya sastra secara tertulis dan diketahui nama pengarangnya.
Dekonstruksi merupakan sebuah pembacaan teks, namun tidak semua teks dapat dianalisis menggunakan dekonstruksi. Hanya teks-teks yang mengandung keterkaitan dengan membalik oposisi-oposisi biner yang ada.
Dekonstruksi dalam cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari karya Intan Paramadhita
Cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari adalah salah satu cerpen karya Intan Paramaditha dalam buku Sihir Perempuan yang diterbitkan tahun 2005. Terdapat 11 cerpen dalam buku ini yang sebagian besar mengangkat tema keperempuanan. Cerpen karya Intan Paramadhita ini mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas pada tanggal 26 Juni 2014 setelah terpilih sebagai cerpen terbaik yang dimuat harian Kompas selama tahun 2013 dalam rangka peringatan 49 tahun Kompas pada 28 Juni 2014. Intan Paramaditha, penulis kelahiran Bandung 1979 ini adalah penulis yang menuangkan ide ceritanya dengan gaya yang sangat tidak biasa. Penulis lulusan New York University ini sering menuangkan gagasannya sebagai bentuk kritik terhadap fenomena sosial yang berkembang di masyarakat melalui karya sastranya. Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari ini pun lahir sebagai bentuk konstruksi ulang dari dongeng turun temurun Bawang Merah Bawang Putih yang telah melegenda.
Dekonstruksi ini bertujuan menunjukkan ketidakberhasilan kebenaran mutlak (break the fact) dan menyingkap fakta-fakta tersembunyi sehingga dapat menghasilkan makna-makna baru tanpa terpacu pada makna absolut. Lebih mudahnya, dekonstruksi teks ini merombak struktur yang ada dengan pemikiran yang lebih fleksibel dan tidak selalu terpusat.
Dalam dekonstruksinya, Derrida menggambarkan dekonstruksi sebagai tulisan ganda (double writing), gerakan ganda. Dan pengertian ganda. Maksudnya dalam dekonstruksi ini ada dua tulisan, gerakan, atau pengertian yang secara konsep sama namun berlawanan, tapi ‘berlawanan’ disini diartikan untuk saling melengkapi satu sama lain. Senanda dengan Derrida, Simon Crithley memperkenalkan istilah “pembacaan ganda” (double reading) dalam The Ethic of Deconstruction (1992). Menurutnya, pembacaan dengan menggunakan strategi dekonstruksi berbeda dengan jenis pembacaan lainnya.
Hasil Dekonstruksi
Bawang Merah Bawang Putih adalah cerita rakyat yang sangat familiar tentang seorang gadis cantik yang ditinggal mati ibunya kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Anaknya sebaya dengan Bawang Putih yang bernama Bawang Merah. Bawang Putih dikisahkan sebagai gadis yang tulus dan selalu kalah dengan ibu tiri dan saudara tirinya. Melalui cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, Intan Paramadhita mencoba mengungkap sisi lain dari cerita rakyat tersebut. Di dalam cerpen ini terdapat pembongkaran-pembongkaran yang diluar dugaan masyarakat dengan apa yang telah diketahui. Adanya perbedaan ini nampak jelas ketika tokoh Sindelarat yang dioposisi-binerkan dengan Bawang Putih ternyata tidak setulus itu hatinya.
 “ Adik tiriku Larat memang piawai memasang muka manis. Suatu hari ketika ayah tiriku hendak bepergian, ia menanyakan hadiah apa yang kami inginkan. Tentu saja karena jarang mendapat hadiah yang bagus darinya, kami menjawab gaun indah. Larat berkata, cukup sekuntum mawar saja. Tak heran, karena tanpa ayah bepergianpun ia sudah diberikan segala kemewahan. Perhatikan betapa ia ingin menampilkan citra gadis baik-baik yang tidak matrealistis. Puh! Sangat tidak realistis. Kalau tak peduli kekayaan, mengapa ia bersikeras pergi ke pesta untuk bertemu pangeran Mahakaya?” (hal. 31)
Dari kutipan diatas terdapat kontradiksi antara tokoh Bawang Putih dan seorang Sindelarat. Dalam kutipan di atas diceritakan bahwa Larat memasang muka polos dan terkesan sederhana tidak muluk-muluk padahal dia sangat matrealistis dan menginginkan harta kekayaan. Sindelarat tidaklah sepolos Bawang Putih. Kepolosannya dia gunakan untuk menarik hati ayahnya dan orang-orang sekitarnya padahal dia sebenarnya mempunyai maksud yang licik. Jika dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih mengisahkan kehidupan Bawang Putih yang selalu kalah dan hidup sengsara karena perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu tiri dan Bawang Merah, maka di dalam cerpen ini cerita itu dibongkar dengan cara mengisahkan tokoh Perempuan Buta selaku saurada tiri Sindelarat yang selalu kalah dengan kehidupan Sindelarat. Bahkan yang suka bertindak semena-mena adalah Sindelarat. Ia suka memberikan baju bekasnya kepada saudara tirinya dan menyuruh ibu tirinya untuk memanjakannya.
Dari sini pembaca akan ditunjukkan sebuah pandangan baru, ternyata saudara tiri yang selama ini disentralkan bersifat jahat dan kejam dikisahkan menjadi tak selamanya saudara tiri itu bersifat jahat dan belum tentu jahatnya itu memang benar karakternya seperti itu. Selama ini anak-anak mudah terprovokasi dongeng Bawang Merah Bawang Putih bahwa Bawang Merah sebagai saudara tiri dan ibu tiri itu jahat, sedangkan Bawang Putih itu selalu baik. Padahal tidak selamanya berlaku seperti itu.
Dekonstruksi lain juga nampak dalam kutipan cerpen berikut:
 “Tahun demi tahun berlalu dan kami menjadi bunga yang siap dipetik. Tapi sial, siapa yang dilirik para pemuda di pasar ataupun alun-alun? Larat. Kendati ia tak lagi bergaun indah, wajahnya masih tetap cantik. Kulitnya kuning bercahaya. Rambutnya hitam bak mayang. Tubuhnya semampai, pinggangnya kecil. Kakinya apalagi. Tutur katanya lembut merayu. Sedangkan kami, yang lebih mewarisi rupa ayah daripada kecantikan ibu. Bertubuh besar dan bekulit gelap. Kami saudara Larat hanya bisa gigit jari saat tetangga mengomentari kesempurnaannya setiap waktu. Dan betapa was-wasnya kami kala mengetahui para laki-laki mengantre di depan pintu hanya untuk melamar Larat.” (hal 31-32)
Barometer perempuan cantik adalah perempuan yang cantik di mata laki-laki. Dalam cerpen ini perempuan buta dianggap sebagai sosok yang terpinggirkan. Dibalik kekurangan yang dimiliki, perempuan buta tersebut selalu dikalahkan oleh sosok Larat, adik tirinya, Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap keadaan yang ada. Dia tidak mencoba menyakiti atau bahkan membunuh Sindelarat yang selalu menghalanginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia menyadari bahwa dirinya berbeda dengan Larat. Perempuan buta tersebut merasa terkucilkan saat mengetahui dan menyadari bahwa semua orang lebih menyukai dan tertarik pada Larat dibandingkan dengan dirinya yang buta dan kondisi fisik tidak sempurna. Berbeda dengan dongeng Bawang Merah Bawang Putih dimana Bawang Merah selalu menindas Bawang Putih demi mencapai keinginannya. Si perempuan buta tak pernah mencapai dominasi hidupnya selama tinggal dengan Sindelarat meskipun ia berharap bisa hidup enak dan bahagia setelah ibunya menikah lagi.
Bawang Merah sebagai saudara tiri Bawang Putih, yang dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih dikenal angkuh, suka membangga-banggakan diri, dan merasa dirinya lebih baik dari Bawang Putih. Namun di dalam cerpen menghadirkan karakter yang berbeda dari tokoh Perempuan Buta sebagai saudara tiri Larat. Ia mengakui kelebihan Larat dibandingkan dengan dirinya. Ini terlihat dari deskripsi Perempuan Buta tentang kelebihan sosok Larat dibandingkan dirinya dan ia hanya bisa gigit jari melihat kecantikan Larat. Ini berarti saudara tiri mau mengakui kekurangan dirinya dan tidak selalu saudara tiri suka membangga-banggakan diri atas adik tirinya.
Dekonstruksi juga terdapat dalam kutipan cerpen berikut:
“Ibu menyuruh Larat bersembunyi saat aku dan adikku bergiliran mencoba sepatu itu. Rupanya ia masih bermimpi kami bisa mendapat jodoh keturunan ningrat. Tapi sepatu itu terlalu kecil. Kakiku harus kupaksa masuk kedalamnya agar aku bisa diterima. Sial , jari-jari kakiku begitu besar dan melebar! Aku tak isa mendorong lagi karena ibu jariku melebihi ukuran gadis-gadis pada umumnya. Ibuku menyodori pisau, “Potong jari kakimu. Kelak jika kau jadi ratu, kau tak akan terlalu banyak berjalan. Jadi kau tak membutuhkannya.” Maka kuambil pisau itu an kugigit bibirku saat aku berusaha memutuskan ibu jari kakiku. Kubuang bagian kecil tubuhku itu ke tempat sampah untuk menjadi santapana anjing. Kini kusadari, Nak, dunia ini memang penuh dengan sepatu kekecilan yang hanya menerima orang-orang termutilasi. (hal 33.)
Kutipan cerpen di atas menggambarkan bahwa cerpen ini juga menampilkan sisi lain dari dongeng Bawang Merah Bawang Putih berkaitan dengan hubungan ibu dan anak kandungnya. Jika dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih ibu tiri selalu menyayangi Bawang Merah dengan cara yang lembut dan selalu memanjakannya, maka dalam cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari ini menampilkan sisi buruk seorang ibu yang dilakukan terhadap anak kandungnya sendiri. Ego yang dimiliki seorang ibu untuk memiliki harta dengan cara mengorbankan kesempurnaan fisik anaknya. Seperti yang dilakukan ibu tiri Sindelarat kepada anak kandungnya, si perempuan buta, dengan cara menyakiti anak kandungnya. Meskipun toh maksud dari memotong ibu jari kaki agar bisa masuk kedalam sepatu pangeran dalam rangka mencari permaisuri, sehingga ia kelak bisa menjadi Ratu. Sang ibu lebih mementingkan ambisinya sendiri untuk memperoleh harta kekayaan kerajaan dengan cara mengorbankan anaknya. Seorang ibu yang tidak ingin menyakiti anaknya seperti dalam dongeng, justru disini digambarkan kejahatan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri. Ia seolah-olah tidak peduli dengan rasa sakit yang diderita anaknya. Seorang ibu yang tidak sanggup melihat jari putrinya tersayat pisau dalam dongeng, bahkan dalam cerpen ini berhasil menguak ibu kandung juga bisa memutilasi anaknya. Ini seperti kritik yang dilontarkan kepada kaum ibu saat ini terkait kasus pembunuhan anaknya karena alasan ekonomi. Kisah ini juga tersirat bahwasannya secara tidak langsung si ibu tiri ini malah melindungi anak tirinya, yaitu Sindelarat. Dengan adanya pandangan baru tersebut, seorang anak bisa lebih berwawasan luas dan berpikiran bebas karena tidak serta merta menganggap ibu tiri selalu menyakiti anak tirinya.
Intan Paramadhita piawai dalam menghancurkan imajinasi gadis-gadis tentang keinginan mereka menjadi seorang putri dengan menikahi seorang pangeran seperti dalam kutipan berikut:
“Oh, ya, Larat tidak hidup bahagia selama-lamanya seperti yang dikira banyak orang. Ia meninggal saat melahirkan putrinya yang keenam. Hampir setiap tahun ia hamil karena kerajaan membutuhkan putra mahkota. Ia tak lagi cantik- pahanya ditimbuni lemak dan perutnya lembek seperti tahu. Ia mati karena pendarahan berkepanjangan, sebagai penutup cantik kisah yang banjir darah ini. (hal. 36)”
Sentral dari cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari, yakni Sindelarat dikisahkan tidak bahagia selama-lamanya setelah menikah dengan pangeran. Bahkan kehidupan Sindelarat berakhir tragis dan sungguh mengenaskan ketika setiap tahun ia diminta untuk melahirkan putra sebagai penerus kerajaannya. Alhasil, ia harus meregang nyawa saat kelahiran putranya yang keenam. Tidak ada letak kebahagiaan setelah menikah dengan seorang pangeran dan tinggal di istana kerajaan dikarenakan Sindelarat dituntut untuk melahirkan setiap tahun. Kesan bahwa akhir hidup Bawang Putih setelah menjadi seorang putri yang “bahagia untuk selama-lamanya” dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih ini kembali dipatahkan oleh Intan Paramaditha.
Cerpen tersebut berhasil mendobrak doktrin pembaca tentang dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Dalam cerpennya ini, Intan mengkritik fenomena di masyarakat yang melandaskan kecantikan wanita itu segala-galanya. Seorang wanita yang telah bersuami harus merawat tubuhnya seindah mungkin. Dia harus diet ketat demi mendapatkan postur tubuh yang ideal. Di dalam dongeng juga selalu mendeskripsikan sosok putri itu selalu cantik dan langsing. Akan tetapi cerita ini menyuguhkan sosok perempuan yang telah bersuami yang sama sekali tidak peduli dengan timbunan lemak di tubuhnya, dan hal ini tidak masalah bagi seorang suami selama sang istri berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya.
Dibawah ini merupakan tabel perbandingan antara persamaan dan perbedaan yang dimiliki kedua tokoh yang dioposisi-binerkan.
Tabel 1.1 Persamaan Tokoh Bawang Putih dan Sindelarat
No.
Tokoh
Bawang Putih
Sindelarat
1.
Fisiologi
Wanita
Berwajah cantik
Wanita
Berwajah cantik
2.
Sosiologi
Anak orang berada
Memiliki ibu dan saudara tiri
Disukai banyak lelaki
Anak orang berada
Memiliki ibu dan saudara tiri
Disukai banyak lelaki
3.
Psikologi
Lemah lembut
Pandai menarik hati
Lemah lembut
Pandai menarik hati

Tabel 1.2 Perbedaan Tokoh Bawang Putih dan Sindelarat
No.
Tokoh
Bawang Putih
Sindelarat
1.
Fisiologi
Gadis Remaja
Perawan
Fisik yang terawat
Wanita Dewasa
Bersuami
Fisik tidak terawat
2.
Sosiologi
Tinggal di sebuah desa
Mempunyai satu saudara tiri
Tinggal di Kerajaan
Mempunyai dua saudara tiri
3.
Psikologi
Mandiri
Tidak matrealistis
Asli polos

Disiksa ibu tiri dan saudara tiri
Tidak serakah
Selalu kalah dengan saudara tiri
Manja
Matrealistis
Kepolosan yang dibuat-buat
Semena-mena kepada saudara tiri
Tamak akan harta
Selalu menang dari saudara tiri

KESIMPULAN
Cerpen Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari ini merupakan sebuah kritik Intan Paramadhita terhadap permasalahan sosial dan keperempuanan yang dihadapi masyarakat. Dengan menggunakan dekonstruksi yang dicetuskan oleh Derrida, tokoh-tokoh dalam dongeng Bawang Merah Bawang Putih diceritakan secara explisit berlawanan pada cerpen Perempuan Buta tanpa Ibu Jari ini namun tetap memiliki konsep yang sama. Oposisi-oposisi benier telah berhasil dibalik yang terlihat secara eksplisit kekontrasan antara karakter tokoh-tokohnya dan keterbalikan dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Dengan demikian, analisis ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru yang dapat mendukung pembelajaran karya sastra di era modern ini. Pembacaan teks dengan dekonstruksi ini benar-benar akan memperkaya pengetahuan pembaca tentang sentralisasi yang selama ini mendoktrin pikiran pembaca, sehingga masyarakat khususnya anak-anak diharapkan lebih kritis terhadap problematika di sekitarnya untuk dapat menggali kreativitas dari sudut yang lain. Selain itu mereka juga dapat menangkap pesan tersembunyi dilihat dari aspek yang berbeda. Meskipun Perempuan Buta sebagai saudara tiri tidak berlaku semena-mena dan suka menang sendiri, namun di Indonesia tetap dianggap sebagai subjek yang termarjinalkan atau tersisihkan karena tidak punya celah untuk bersaing. Ditambah dengan memahami dan mempelajari karya sastra Indonesia khususnya cerita rakyat dan cerita pendek dapat membantu melestarikan budaya kita. Kehidupan seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Selalu ada dua sisi yang berbeda namun tidak ada yang diunggulkan karena keduannya sebenarnya diciptakan untuk saling melengkapi satu satu lain.
REFERENSI
Cooper, J. David. 2000. Literacy. Helping Children construct Meaning. Houghton
Mifflin Company: Boston.
Darsimah, dkk. 1992. Pengantar Kesusastraan Jepang. Jakarta: Gramedia.
Norris, Christopher. 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Ar
Ruzz: Yogyakarta.
Paramaditha, Intan. 2005. Sihir Permpuan. Jakarta: KataKita.
Tyson, Lois. 1999. Critical Theory Today. New York and London: Garland
Publishing, Inc.
Wellek & Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

No comments:

Post a Comment

Dekostruksi cerpen "The Grasshopper" karya Anton Chekov

DECONSTRUCTING “THE GRASSHOPPER” AND “ART” IN ANTON CHEKOV’S THE GRASSHOPPER   Presented by: HARIS KURNIAWATI 120...